Senin, 21 Februari 2011
Tetangga yang menyebalkan
Akhir2 ini keluargaku dilanda gatal-gatal. Aku khawatir karena nyamuk atau binatang lain yang hidup di lingkungan kotor penyebab gatal2 ini. Padahal sudah berkali-kali aku SMS pemilik lahan, mohon pengertiannya untuk membersihkan lahannya. Tapi ga digubris sama sekali. Bahkan sudah dilaporkan pada Ketua RT, tapi tetap ga ada tindakan.Annoying banget kan...?
Kira-kira harus diapain ya tetangga seperti ini..?
Sabtu, 19 Februari 2011
Ga bisa nonton film di bioskop lagi
Keluargaku suka banget nonton film. Tapi bukan sembarang film. Aku, suami dan anakku, kami bertiga lebih suka nonton film yang berkualitas, bukan film komersil tp ga mutu. Jujur aja, saking demennya kita nonton, koleksi film di rumah jumlahnya lebih dari 300 judul, 99 % film luar (hollywood, anime, drama korea). Film Indonesia cuma 2 judul aja, Laskar Pelangi dan Gie. Bukan kita ga suka film Indonesia, tapi karena menurut kita, film Indonesia yang bermutu dikit banget. Dari 2 judul tadi, ada beberapa sih yang bagus, seperti Sang Pencerah. Tapi kita emang lebih suka nonton film luar. Pertama, film luar yang bermutu, emang dijamin bermutu. Dari akting pemain, jalan cerita, special effect, sutradara, musiknya, semua pas dan kesannya ga dipaksain. Anime jepang (bukan serial) ide ceritanya selalu fresh. Drama korea, biar ceritanya sebenarnya itu-itu saja, tp akting pemainnya natural banget, ga lebay kayak pemain sinetron.
Tapi emang ga semua film hollywood kita suka. Seperti Twilight chronicles, kita cuma nonton di bioskop yg Twilight aja, itupun karena pengen tau aja setelah baca bukunya. Setelah nonton Twilight, kita ga pengen nonton sekuelnya, karena menurut kita filmnya biasa aja. Akting pemainnya standar. Kita bahkan ga pengen beli DVD-nya untuk koleksi.
Nonton film bener-bener bikin stress kita ilang... sama dengan baca buku, karena kita juga pecinta buku. Kalo di tivi ga ada yang nagus untuk ditonton, secara isinya sinetron semua dan kita ga ada yang suka sinetron, kita pasti punya empat pilihan. Satu, setel DVD. Dua, masuk kamar dan baca buku. Tiga, buka netbook dan menjelajah dunia maya. Empat,main gitar. Mungkin kesannya keluargaku jadi kayak orang autis. Tapi justru dengan Empat pilihan tadi, kita jadi lebih banyak pengetahuan dari teman lain. Anakku bahasa inggrisnya lebih bagus dari temannya, karena terbiasa nonton film luar (hollywood, jepang, korea) di DVD dengan teks bahasa inggris. Aku dan suami mewajibkan anakku nonton DVD dengan teks bahasa Inggris, agar dia lebih tahu bahasa Inggris secara luas dan komplit.
Lalu dengan baca buku, kita bisa tahu banyak hal di dunia tanpa harus keliling dunia (walaupun pengen banget travelling around the world). Dengan berinternet, kita bisa tahu berita2 yang ga disiarkan di tivi, selain itu bisa sosialisasi tanpa batas. Main gitar, hmmm.... Kita seneng musik, dan kebetulan bisa main gitar semua, meskipun aku dan anakku masih belajar banget. Dengan musik, bener2 bikin relaks...
Empat alternatif meredakan stress keluargaku itu, bentar lagi bakal terhambat salah satu. Bentar lagi, kita ga bisa nonton film di bioskop, karena bakalan ga ada lagi film hollywood diputer di bioskop. Dan ini menjengkelkan...! Karena kita jadi ga bisa nonton Harry Potter and the deathly hallows part II...! Padahal tak ada satu seripun dari Harry Potter terlewat oleh kita di bioskop...! Shit...! Kebijakan menaikkan pajak impor film hollywood yg pada awalnya bertujuan melindungi produksi dalam negeri, menurutku malah jadi bumerang. Kalo cuma ada film lokal di bioskop, bukan ga mungkin kita bakal disuguhi film porno melulu...! Sekarang aja, film horor ada pornonya, film komedi ada pornonya. Lama-lama bakal ada film full porno diputer di bioskop. Trus apa itu yang namanya melindungi produksi dalam negeri...?
Kalo banyak kejahatan seksual dilakukan remaja semakin merajalela, jangan salahkan siapa-siapa. Itu semua karena tontonan yang ga layak tonton tapi tetep diputer dengan alasan Cinta Produksi Dalam Negeri...