Selasa, 26 April 2011

Laci Enam : Kematian

Kematian ada di tangan Tuhan. Semua orang tahu itu. Tapi tak seorangpun siap menghadapi kematian. Terutama bila itu menimpa orang yang kita sayangi. Aku sudah menghadapi kematian-kematian yang membuatku shock. Kehilangan orang yang kita sayang, sungguh sangat menyakitkan.

Kehilangan pertama yang kuingat adalah saat Embah Kung dari Bapak meninggal. Saat itu aku masih kelas enam SD. Aku lumayan dekat dengan Embah Kung. Beliau yang mengajarkanku Bahasa Inggris sejak aku masih sangat kecil. Tapi kepergian Embah Kung tidak terlalu menyakitkan. Mungkin karena aku masih kecil. Jadi belum bisa merasakan emosi yang berlebihan.

Saat anakku berulangtahun yang ke 6 tahun, Embah Putriku dari Ibu meninggal. Yang membuat aku sangat sedih sampai sekarang, adalah Embah meninggal bersamaan dengan Pakde, anak tertua Embah, kakak Ibu. Embah meninggal sekitar lima menit setelah Pakde meninggal. Keluarga besar begitu terpukul, karena harus memakamkan dua orang sekaligus, padahal mereka tidak tinggal bersama. Selain itu, aku menyesal karena belum sempat memenuhi permintaan Embah sebelum meninggal. Beberapa hari sebelum meninggal, Embah minta foto Ega, anakku, yang baru masuk SD. Tapi aku belum sempat memberikannya, Embah meninggal.

Kemudian, aku kehilangan seorang teman dekat. Seorang teman yang sempat terjerumus ke narkoba, walaupun kemudian berhenti, meninggal saat berusia masih sangat muda, sekitar 20-an. Dia meninggal setelah sholat subuh, dan dalam keadaan sehat. Aku terpukul, karena malam sebelumnya, aku didatangi temanku itu saat aku tidur. Mungkin saat itu dia berpamitan. Dan hanya aku yang dipamitin.  

Kepergian Bapak yang paling membuatku shock. Bapak pergi untuk selama-lamanya, tgl 30 April 2007, hari Senin. Beliau meninggal masih memakai seragam, sepulang dari kerja. Bapak tidak sakit, beliau meninggal karena serangan jantung, yang memang diidapnya sejak lama. Hari Sabtu sebelumnya, Bapak masih menjemput adik bungsuku dari rumah sakit  di Malang karena demam berdarah. Beliau menyetir sendiri Pasuruan - Malang - Pasuruan. Sebelum menjemput adikku, bapak sempat menitipkan Ibu padaku. Adikku shock saat meninggal, sehingga kondisinya yang baru sembuh dari sakit, langsung drop. Karena kepergian Bapak itu, dua adikku yang rencananya memang akan menikah tahun 2007, harus melaksanakan akad nikah di depan jenazah Bapak. Ga bisa kugambarkan betapa mengharukan dan menyedihkan suasana saat itu. Akad nikah penuh derai air mata.

Lima hari setelah Bapak meninggal, aku kehilangan lagi. Sepupu suamiku, yang lumayan dekat denganku, meninggal karena kecelakaan. Bayangkan betapa limbungnya aku. Aku masih berduka karena Bapak, harus kehilangan saudara dengan cara yang  tragis dan mengejutkan. Sampai sekarang aku masih merasakan duka itu.

Aku kehilangan seorang sahabat lagi. Setahun setelah Bapak, sahabatku yang sangat sangat dekat denganku, sudah kuanggap kakakku, meninggal karena sakit. Malam sebelumnya, aku masih menemaninya di rumah sakit. Aku sangat terpukul karenanya. 

Setelah Ambon sahabatku meninggal, aku kehilangan keponakanku. Tepat 1 tahun 1 bulan setelah Bapak, adikku melahirkan, dan bayinya meninggal. Ibuku sangat terpukul, begitu juga aku. Sudah lama kami tidak mendengar suara bayi, tapi ketika ada bayi, dia diambil oleh Allah SWT. Aku ga bisa bayangkan bagaimana perasaan adikku. 

Kehilangan anak juga pernah aku rasakan. Dua kali, malah. Aku kehilangan janin (harusnya anakku yang kedua), karena kecelakaan motor. Yang kedua kali aku kehilangan janin, karena pre-eklamsia. Dua kali aku dikuret, dan cukup membuatku trauma. Mungkin itu sebabnya aku belum punya anak lagi, ya. Allah kan yang paling tahu yang terbaik untukku.

Kematian orang-orang yang kusayang, membuatku sadar, tak seorangpun tahu usia kita. 

Senin, 11 April 2011

Laci Lima : Get Married

Aku menikah muda. Aku menikah saat usiaku 18 tahun. Terlalu muda memang. Aku menikah saat masih kuliah dan masih semester dua. Aku kuliah di salah satu universitas swasta di Malang. Awal kuliah aku sangat tidak bahagia. Aku tidak bisa berbaur dengan teman-temanku, karena aku merasa minder. Di tempat kost aku juga merasa asing. Aku merasa begitu merindukan keluargaku, teman-teman SMA-ku dan tentu saja pacarku yang saat itu kuliah di Bandung. Walaupun pada akhir semester satu aku mulai mendapat teman karena aku memenangkan English Speech Contest di kampus, tapi tetap saja aku merasa kesepian.

Semester dua aku menikah dengan pacarku. Dia berhenti kuliah karena tidak tahan berjauhan denganku.. Hehe.. Aku cuti kuliah saat hamil dan melahirkan dan kembali kuliah ketika anakku berusia 7 bulan. Aku sempat terkena baby blues syndrom setelah melahirkan. Aku merasa duniaku berakhir. Aku merasa belum saatnya aku menjadi ibu, aku masih terlalu muda. Aku marah pada suamiku, marah pada diriku sendiri, marah pada anakku yang tidak tahu apa-apa. Untung saja, perasaan itu tidak berlangsung lama. Ketika kembali kuliah, aku sudah kembali kepada diriku seperti saat SMA dulu. Karena cuti selama setahun, aku kuliah bersama angkatan dibawahku. Disini aku menemukan banyak teman baik. Mereka menerimaku dengan tangan terbuka dan sangat bersahabat. Dan suamiku akhirnya diterima UMPTN di Malang, jadi bisa kuliah bersamaku. 

Aku mengontrak rumah bersama suami dan lima orang sahabatku. Saat itu, aku dan suamiku adalah pasangan miskin. Kami meninggalkan anak bersama orangtuaku. Kami tidak punya penghasilan dan sama-sama masih kuliah. Uang masih diberi orangtua. Benar-benar hidup di bawah saat itu. Tapi kami bahagia, karena susah senang ditanggung bersama dan ada sahabat-sahabat baik kami yang selalu siap membantu bila kami kesulitan.

Ketika akhirnya suamiku memulai bisnis penyewaan VCD, dia harus berhenti kuliah karena fokus mencari uang. Karena itu, kami keluar dari kontrakan. Aku melanjutkan kuliah sendiri. Harus pulang pergi Pasuruan-Malang tiap hari untuk kuliah. Semester 7, aku terpaksa berhenti kuliah karena anakku masuk sekolah. Orangtua kami sibuk, jadi tidak ada yang mengurusi sekolah anakku. Aku sebagai ibu, tentu saja harus mendahulukan anak. Jadi aku harus rela melepaskan gelar sarjana komunikasi yang hampir di tangan demi anakku. Aku sama sekali tidak menyesal, malah aku senang bisa membimbing anakku.

Selama 6 tahun aku tinggal bersama mertua. Mertuaku orang yang baik. Mereka bukan mertua yang jahat seperti di sinetron. Mereka sangat baik. Aku bersyukur punya mertua seperti mertuaku. Ketika akhirnya aku punya rumah sendiri, mertuaku sempat melarang kami pindah dan meminta kami tetap tinggal bersama mereka. Tapi kami ingin mandiri, walaupun tidak punya apa-apa. Aku tidak bekerja dan bisnis suamiku masih sangat kecil. Selama 7 tahun aku jobless, aku benar-benar merasa malu pada anakku karena tidak bisa memberi apa-apa. Anakku memang tidak kekurangan apapun, kakek neneknya sangat memanjakan dia. Tapi aku merasa bersalah padanya. Apalagi selama tinggal di rumah sendiri, kami benar-benar kekurangan. Suamiku wirausaha yang  penghasilannya tidak tentu. 

Alhamdulillah, setelah 7 tahun aku akhirnya dapat pekerjaan. Mulai dari ikut kontraktor selama 3 bulan, jaga wartel, jadi kasir di kedai usaha patungan suami dan dua teman, sampai kemudian mertuaku memintaku jadi guru tidak tetap di sebuah sekolah swasta. Akhirnya, cita-cita kecilku tercapai. Jadi guru. Hore...! Walaupun gaji pertamaku sebagai GTT cuma 30 ribu rupiah, tapi aku menikmati pekerjaanku. Aku kuliah lagi. Aku kuliah Pendidikan Guru SD, jadi khusus jadi guru kelas SD. Teman-teman kuliahku di Malang banyak yang heran kenapa aku bisa jadi guru SD? Hehe.. Belum tahu aja mereka, kalau aku kuliah lagi. 

7 tahun jadi GTT di 2 sekolah, akhirnya aku lolos tes CPNS. Horee...! Dan sekarang, akhirnya, kehidupan pernikahanku, setelah hampir 16 tahun, semakin kokoh dan kuat. Setelah melewati begitu banyak aral melintang, kami bisa berdiri sendiri. Dari tidak punya apa-apa, makan saja susah, hingga bisa membelikan anakku barang-barang yang dia mau, meskipun bukan barang mewah. Tentu saja itu tidak lepas dari bantuan orangtua dan mertuaku. Dan aku tidak akan pernah menukar keluargaku dengan apapun. Aku sangat bahagia.

Jumat, 01 April 2011

Laci Empat: Pengkhianatan

Pengkhianatan...

Kata-kata itu membuat siapa saja meradang... 

Siapa saja bisa berkhianat pada siapa saja. Aku mengenal pengkhianatan sejak masih sangat kecil. Aku melihat pengkhianatan dan merasakan luka akibat pengkhianatan itu. Dampaknya, aku sulit mempercayai laki-laki.

Ibuku dikhianati Bapak betahun-tahun. Dan ibu bertahan dengan keadaan itu sampai Bapak meninggal, demi anak-anaknya. Aku ga mungkin bisa sekuat ibu, seandainya aku berada di posisi ibu. Aku melihat sendiri pengkhianatan Bapak sejak masih kecil. Sebagai anak sulung, aku merasa wajib melindungi ibu. Dan mungkin itulah kenapa aku menjadi dewasa sebeblum waktunya dalam pemikiran. Aku merasakan luka akibat pengkhianatan Bapak sampai aku dewasa. Tapi aku adalah satu-satunya anak yang mau memaafkan Bapak. Kedua adikku sama sekali enggan memaafkan Bapak. Bahkan mereka hampir ga pernah bicara sama Bapak.

Tapi, karena ketegaran Ibu, keluargaku ga pernah menjadi keluarga broken home. Keluarga yang tidak bahagia. Kami masih tetap bersatu sampai Bapak meninggal. 

Karena Bapak, aku belajar berhati-hati dengan lelaki. Temanku lebih banyak cowok, dan bermacam-macam pula karakternya. Aku berteman dengan cowok yang cupu dan pendiam, sampai cowok junkies dan cowok yang gaya hidupnya berantakan. Tapi tak satupun dari mereka yang macam-macam denganku. Sebaliknya, mereka sangat melindungiku.

Aku juga pernah dikhianati lelaki yang pernah berjanji banyak hal padaku. Untunglah dia tidak menjadi suamiku. Karena aku ga bisa membayangkan kalau dia jadi suamiku, bisa-bisa dia akan mengkhianatiku lagi..

Aku muak dengan pengkhianatan. Aku yakin siapa saja juga muak dengan pengkhianatan.