Rabu, 04 April 2012

Big Heart

"Bu Ajeng punya hati yang besar"

"Bu Ajeng selalu membuat suasana ceria"

Begitu kata teman-teman di sekolah tentang aku. Aku ga tahu kenapa mereka berkata seperti itu. Mungkin karena aku selalu tertawa, bahkan di saat aku sakit sekalipun. Dan aku tidak pernah bisa tertawa yg ditahan. Tertawaku "renyah" kata teman-teman. Tiap kali aku tertawa, teman-teman selalu bilang "waduh rame deh kalo ada bu Ajeng". Aku ga tahu itu pujian atau apa ya.. Tapi yang pasti aku tidak pernah kelihatan sedih atau sakit.

Saat aku punya masalah, aku selalu menyembunyikannya dengan tertawa. Tak ada yang tahu aku bermasalah atau ga. Yang penting aku  berusaha orang lain gembira.

Do I have a big heart? I don't know... I hope so..

Rabu, 16 November 2011

Be True in the Seeking of Happiness

What is happiness to you?

Happiness has a different meaning for everybody. For me, happiness is when I feel comfortable, secure, and no pressure in everything I do, say or think. 

For 34 years of my life, most of the time I don't feel comfortable, secure and always under pressure. I've been told in almost everything I did and said. But I had no guts to break it down. I was so afraid to say "NO" cause I was nothing back then.

For almost time in my life, I was wearing mask, a "smile happy" mask, fooling myself and fooling people, pretending that I was happy but I wasn't.  I was so good at it, smile and make people laugh, make people believe that I am happy. No one knew, I had a big big big problem inside, and it's exploding now. No one knew I kept a "volcano" in me...

What I felt was, like being alone in the crowd, I needed someone to help me get out of the crowd, but no one seemed to care.. I was trying to reach people's hand and heart but no one seemed to understand..

When finally I have guts to speak out my mind, to tell people what I think and how I feel, and being true, it ended with so many people around me got hurt.. 

So, what should I do now? If I continue to be true about how I feel (that I am not happy here, and I must get out), people might get hurt.. But if stay here just to keep others happy and I am fooling myself again like I was before, it means I will live my life unhappy..

I just want to be happy, feeling comfortable, secure and free for the rest of my life... Is it so hard to ask...? Do I have the right to be happy like other people? 

Being happy is something you should get, but you couldn't get it alone, you need someone who can make you feel happy. And all my life, I was struggling to seek for happiness, by myself. And it was useless. There is no happiness if you're feeling alone, right?

Now I still find my happiness, but not here.. Not in the place where I live now.. I feel numb right now.. But I believe everyone has a chance to be happy, and so do I. I know I will be happy but not here. This place makes me sick..  I really need to get out..

So...what is happiness to you..?

Sabtu, 22 Oktober 2011

Laibbaikkallah Humma Laibbaik...

Bentar lagi Idul Adha.. Musim Haji tiba.. Bagi umat Muslim sedunia, menunaikan ibadah Haji adalah hal yang dirindukan, selain menjadi ibadah wajib bagi yang mampu.

Barusan aku dan teman-teman pulang dari rumah orang yang hendak berangkat ibadah Haji. Dalam sehari kami mendatangi dua pasang suami istri yang mendapat panggilan Allah itu. Dalam waktu satu jam kami makan dua kali, belum cemilan yang disuguhkan tuan rumah. Bayangkan betapa gendutnya kami sepulang dari mendoakan teman kami itu.

Masih ingat ketika ibu naik Haji beberapa tahun lalu. Betapa ribet dan repotnya orang yang mau naik Haji. Mau berangkat ada syukuran. Pulang pun syukuran. Belum lagi oleh-oleh yang harus disiapkan untuk para tamu yang katanya, minta berkah. Padahal tidak dipungkiri, meskipun tidak diakui terang-terangan, tamu-tamu yang berduyun-duyun datang setelah ibu pulang, pasti mengharapkan oleh-oleh dari Mekkah. Padahal belum tentu oleh-oleh itu dari Mekkah. Jujur aja, 90% jamaah Haji Indonesia, membeli oleh-oleh di Indonesia sendiri. Kalo di Jawa Timur sih, pusatnya di pasar yang ada di Makam Sunan Ampel Surabaya. Mau cari oleh-oleh apa saja, pokoknya berbau Arab, ada. Selain lebih murah, ga ribet pula bawanya. Bayangin aja kalo oleh-oleh itu benar-benar dibeli di Mekkah. Betapa ribet bawanya, ngurusin pajaknya dan lain-lain. Apalagi yang dibeli selalu dalam jumlah yang subhannallah ya... buaaaaannnnyyyyuuuuaaaak....!! Ibuku kedatangan tamu setiap hari selama 40 hari, dari pagi sampai malam. Dan separuh dari tamu-tamu itu, ibuku ga kenal sama sekali.

Yang membuat aku berpikir, apakah untuk menunaikan suatu ibadah wajib harus seribet dan semahal itu ya? Dari mulai daftar, mendapat kuota, bayarnya yang mahaaaaal, belum lagi nunggu untuk bisa berangkat aja sampai bertahun-tahun. Padahal setahuku, orang awam yang tidak terlalu mengerti agama, Islam tidak pernah menyusahkan umat. Islam adalah agama yang mudah dan murah. Lalu kenapa mau naik haji aja orang harus ribet dan repot? Kenapa pula harus mahal? Beberapa orang yang kukenal, menunaikan ibadah haji dengan biaya murah. Karena mereka mendaftar untuk ibadah haji di negara tetangga. Singapura dan Australia contohnya. Mereka bilang, disana lebih murah, ga ribet, ga repot, ga harus nunggu bertahun-tahun. Lalu kenapa di Indonesia jadi mahal, ribet dan lama? Hmmmm....

Ada lagi yang membuatku heran. Kenapa orang yang pulang dai ibadah haji, selalu dipanggil "Ji...". Apa nama mereka ganti semua ya, jadi "Ji.."? Bahkan 90% dari mereka memasang "H" dan "Hj" di depan nama mereka. Hei, Haji dan Hajjah itu kan bukan gelar. Tapi ibadah. Setahuku, Nabi Muhammad dan para khalifahNya, tidak memasang "H" didepan nama mereka. Padahal mereka berkali-kali naik haji. Lalu kenapa umatNya yang baru sekali naik haji aja, udah bangga dipanggil "Ji", bangga menulis "H" dan "Hj" di depan nama mereka. Sekali lagi, haji adalah ibadah. Bukan gelar seperti yang kita raih saat kuliah. Apa karena biayanya yang mahal itu, jadi mereka sengaja pasang "H" untuk menunjukkan kemampuan finansialnya?

Tapi ini cuma pendapatku pribadi sih... Pendapat orang lain belum tentu sama denganku. Aku minta maaf untuk orang-orang yang mungkin tersinggung setelah membaca tulisanku. Aku cuma menulis apa yang kupikirnkan, tidak bermaksud menghujat siapapun. Lagi pula, aku belum pernah ke Mekkah, jadi mungkin saja setelah aku sendiri berangkat ibadah haji suatu saat nanti, aku jadi seperti yang kutulis di atas. Tapi insya Allah, semoga Allah tidak menjadikanku orang-orang yang riya'.. Amiin..

Selasa, 26 April 2011

Laci Enam : Kematian

Kematian ada di tangan Tuhan. Semua orang tahu itu. Tapi tak seorangpun siap menghadapi kematian. Terutama bila itu menimpa orang yang kita sayangi. Aku sudah menghadapi kematian-kematian yang membuatku shock. Kehilangan orang yang kita sayang, sungguh sangat menyakitkan.

Kehilangan pertama yang kuingat adalah saat Embah Kung dari Bapak meninggal. Saat itu aku masih kelas enam SD. Aku lumayan dekat dengan Embah Kung. Beliau yang mengajarkanku Bahasa Inggris sejak aku masih sangat kecil. Tapi kepergian Embah Kung tidak terlalu menyakitkan. Mungkin karena aku masih kecil. Jadi belum bisa merasakan emosi yang berlebihan.

Saat anakku berulangtahun yang ke 6 tahun, Embah Putriku dari Ibu meninggal. Yang membuat aku sangat sedih sampai sekarang, adalah Embah meninggal bersamaan dengan Pakde, anak tertua Embah, kakak Ibu. Embah meninggal sekitar lima menit setelah Pakde meninggal. Keluarga besar begitu terpukul, karena harus memakamkan dua orang sekaligus, padahal mereka tidak tinggal bersama. Selain itu, aku menyesal karena belum sempat memenuhi permintaan Embah sebelum meninggal. Beberapa hari sebelum meninggal, Embah minta foto Ega, anakku, yang baru masuk SD. Tapi aku belum sempat memberikannya, Embah meninggal.

Kemudian, aku kehilangan seorang teman dekat. Seorang teman yang sempat terjerumus ke narkoba, walaupun kemudian berhenti, meninggal saat berusia masih sangat muda, sekitar 20-an. Dia meninggal setelah sholat subuh, dan dalam keadaan sehat. Aku terpukul, karena malam sebelumnya, aku didatangi temanku itu saat aku tidur. Mungkin saat itu dia berpamitan. Dan hanya aku yang dipamitin.  

Kepergian Bapak yang paling membuatku shock. Bapak pergi untuk selama-lamanya, tgl 30 April 2007, hari Senin. Beliau meninggal masih memakai seragam, sepulang dari kerja. Bapak tidak sakit, beliau meninggal karena serangan jantung, yang memang diidapnya sejak lama. Hari Sabtu sebelumnya, Bapak masih menjemput adik bungsuku dari rumah sakit  di Malang karena demam berdarah. Beliau menyetir sendiri Pasuruan - Malang - Pasuruan. Sebelum menjemput adikku, bapak sempat menitipkan Ibu padaku. Adikku shock saat meninggal, sehingga kondisinya yang baru sembuh dari sakit, langsung drop. Karena kepergian Bapak itu, dua adikku yang rencananya memang akan menikah tahun 2007, harus melaksanakan akad nikah di depan jenazah Bapak. Ga bisa kugambarkan betapa mengharukan dan menyedihkan suasana saat itu. Akad nikah penuh derai air mata.

Lima hari setelah Bapak meninggal, aku kehilangan lagi. Sepupu suamiku, yang lumayan dekat denganku, meninggal karena kecelakaan. Bayangkan betapa limbungnya aku. Aku masih berduka karena Bapak, harus kehilangan saudara dengan cara yang  tragis dan mengejutkan. Sampai sekarang aku masih merasakan duka itu.

Aku kehilangan seorang sahabat lagi. Setahun setelah Bapak, sahabatku yang sangat sangat dekat denganku, sudah kuanggap kakakku, meninggal karena sakit. Malam sebelumnya, aku masih menemaninya di rumah sakit. Aku sangat terpukul karenanya. 

Setelah Ambon sahabatku meninggal, aku kehilangan keponakanku. Tepat 1 tahun 1 bulan setelah Bapak, adikku melahirkan, dan bayinya meninggal. Ibuku sangat terpukul, begitu juga aku. Sudah lama kami tidak mendengar suara bayi, tapi ketika ada bayi, dia diambil oleh Allah SWT. Aku ga bisa bayangkan bagaimana perasaan adikku. 

Kehilangan anak juga pernah aku rasakan. Dua kali, malah. Aku kehilangan janin (harusnya anakku yang kedua), karena kecelakaan motor. Yang kedua kali aku kehilangan janin, karena pre-eklamsia. Dua kali aku dikuret, dan cukup membuatku trauma. Mungkin itu sebabnya aku belum punya anak lagi, ya. Allah kan yang paling tahu yang terbaik untukku.

Kematian orang-orang yang kusayang, membuatku sadar, tak seorangpun tahu usia kita. 

Senin, 11 April 2011

Laci Lima : Get Married

Aku menikah muda. Aku menikah saat usiaku 18 tahun. Terlalu muda memang. Aku menikah saat masih kuliah dan masih semester dua. Aku kuliah di salah satu universitas swasta di Malang. Awal kuliah aku sangat tidak bahagia. Aku tidak bisa berbaur dengan teman-temanku, karena aku merasa minder. Di tempat kost aku juga merasa asing. Aku merasa begitu merindukan keluargaku, teman-teman SMA-ku dan tentu saja pacarku yang saat itu kuliah di Bandung. Walaupun pada akhir semester satu aku mulai mendapat teman karena aku memenangkan English Speech Contest di kampus, tapi tetap saja aku merasa kesepian.

Semester dua aku menikah dengan pacarku. Dia berhenti kuliah karena tidak tahan berjauhan denganku.. Hehe.. Aku cuti kuliah saat hamil dan melahirkan dan kembali kuliah ketika anakku berusia 7 bulan. Aku sempat terkena baby blues syndrom setelah melahirkan. Aku merasa duniaku berakhir. Aku merasa belum saatnya aku menjadi ibu, aku masih terlalu muda. Aku marah pada suamiku, marah pada diriku sendiri, marah pada anakku yang tidak tahu apa-apa. Untung saja, perasaan itu tidak berlangsung lama. Ketika kembali kuliah, aku sudah kembali kepada diriku seperti saat SMA dulu. Karena cuti selama setahun, aku kuliah bersama angkatan dibawahku. Disini aku menemukan banyak teman baik. Mereka menerimaku dengan tangan terbuka dan sangat bersahabat. Dan suamiku akhirnya diterima UMPTN di Malang, jadi bisa kuliah bersamaku. 

Aku mengontrak rumah bersama suami dan lima orang sahabatku. Saat itu, aku dan suamiku adalah pasangan miskin. Kami meninggalkan anak bersama orangtuaku. Kami tidak punya penghasilan dan sama-sama masih kuliah. Uang masih diberi orangtua. Benar-benar hidup di bawah saat itu. Tapi kami bahagia, karena susah senang ditanggung bersama dan ada sahabat-sahabat baik kami yang selalu siap membantu bila kami kesulitan.

Ketika akhirnya suamiku memulai bisnis penyewaan VCD, dia harus berhenti kuliah karena fokus mencari uang. Karena itu, kami keluar dari kontrakan. Aku melanjutkan kuliah sendiri. Harus pulang pergi Pasuruan-Malang tiap hari untuk kuliah. Semester 7, aku terpaksa berhenti kuliah karena anakku masuk sekolah. Orangtua kami sibuk, jadi tidak ada yang mengurusi sekolah anakku. Aku sebagai ibu, tentu saja harus mendahulukan anak. Jadi aku harus rela melepaskan gelar sarjana komunikasi yang hampir di tangan demi anakku. Aku sama sekali tidak menyesal, malah aku senang bisa membimbing anakku.

Selama 6 tahun aku tinggal bersama mertua. Mertuaku orang yang baik. Mereka bukan mertua yang jahat seperti di sinetron. Mereka sangat baik. Aku bersyukur punya mertua seperti mertuaku. Ketika akhirnya aku punya rumah sendiri, mertuaku sempat melarang kami pindah dan meminta kami tetap tinggal bersama mereka. Tapi kami ingin mandiri, walaupun tidak punya apa-apa. Aku tidak bekerja dan bisnis suamiku masih sangat kecil. Selama 7 tahun aku jobless, aku benar-benar merasa malu pada anakku karena tidak bisa memberi apa-apa. Anakku memang tidak kekurangan apapun, kakek neneknya sangat memanjakan dia. Tapi aku merasa bersalah padanya. Apalagi selama tinggal di rumah sendiri, kami benar-benar kekurangan. Suamiku wirausaha yang  penghasilannya tidak tentu. 

Alhamdulillah, setelah 7 tahun aku akhirnya dapat pekerjaan. Mulai dari ikut kontraktor selama 3 bulan, jaga wartel, jadi kasir di kedai usaha patungan suami dan dua teman, sampai kemudian mertuaku memintaku jadi guru tidak tetap di sebuah sekolah swasta. Akhirnya, cita-cita kecilku tercapai. Jadi guru. Hore...! Walaupun gaji pertamaku sebagai GTT cuma 30 ribu rupiah, tapi aku menikmati pekerjaanku. Aku kuliah lagi. Aku kuliah Pendidikan Guru SD, jadi khusus jadi guru kelas SD. Teman-teman kuliahku di Malang banyak yang heran kenapa aku bisa jadi guru SD? Hehe.. Belum tahu aja mereka, kalau aku kuliah lagi. 

7 tahun jadi GTT di 2 sekolah, akhirnya aku lolos tes CPNS. Horee...! Dan sekarang, akhirnya, kehidupan pernikahanku, setelah hampir 16 tahun, semakin kokoh dan kuat. Setelah melewati begitu banyak aral melintang, kami bisa berdiri sendiri. Dari tidak punya apa-apa, makan saja susah, hingga bisa membelikan anakku barang-barang yang dia mau, meskipun bukan barang mewah. Tentu saja itu tidak lepas dari bantuan orangtua dan mertuaku. Dan aku tidak akan pernah menukar keluargaku dengan apapun. Aku sangat bahagia.

Jumat, 01 April 2011

Laci Empat: Pengkhianatan

Pengkhianatan...

Kata-kata itu membuat siapa saja meradang... 

Siapa saja bisa berkhianat pada siapa saja. Aku mengenal pengkhianatan sejak masih sangat kecil. Aku melihat pengkhianatan dan merasakan luka akibat pengkhianatan itu. Dampaknya, aku sulit mempercayai laki-laki.

Ibuku dikhianati Bapak betahun-tahun. Dan ibu bertahan dengan keadaan itu sampai Bapak meninggal, demi anak-anaknya. Aku ga mungkin bisa sekuat ibu, seandainya aku berada di posisi ibu. Aku melihat sendiri pengkhianatan Bapak sejak masih kecil. Sebagai anak sulung, aku merasa wajib melindungi ibu. Dan mungkin itulah kenapa aku menjadi dewasa sebeblum waktunya dalam pemikiran. Aku merasakan luka akibat pengkhianatan Bapak sampai aku dewasa. Tapi aku adalah satu-satunya anak yang mau memaafkan Bapak. Kedua adikku sama sekali enggan memaafkan Bapak. Bahkan mereka hampir ga pernah bicara sama Bapak.

Tapi, karena ketegaran Ibu, keluargaku ga pernah menjadi keluarga broken home. Keluarga yang tidak bahagia. Kami masih tetap bersatu sampai Bapak meninggal. 

Karena Bapak, aku belajar berhati-hati dengan lelaki. Temanku lebih banyak cowok, dan bermacam-macam pula karakternya. Aku berteman dengan cowok yang cupu dan pendiam, sampai cowok junkies dan cowok yang gaya hidupnya berantakan. Tapi tak satupun dari mereka yang macam-macam denganku. Sebaliknya, mereka sangat melindungiku.

Aku juga pernah dikhianati lelaki yang pernah berjanji banyak hal padaku. Untunglah dia tidak menjadi suamiku. Karena aku ga bisa membayangkan kalau dia jadi suamiku, bisa-bisa dia akan mengkhianatiku lagi..

Aku muak dengan pengkhianatan. Aku yakin siapa saja juga muak dengan pengkhianatan.

Senin, 21 Maret 2011

Laci Tiga : Teenager Period

Masa remajaku, seperti masa remaja lainnya selalu penuh warna. Masa kecilku, saat SD, aku anak yang sangat amat pendiam.. Tapi aku selalu tampil di segala kegiatan. Ikut lomba puisi (dan selalu mendapat juara), paduan suara, petugas upacara. Dasar banci tampil, kegemaranku ikut lomba dan tampil di segala kegiatan ini berlangsung hingga SMA.

Sampai SMP, aku masih dikenal sebagai anak yang pendiam, tapi aktif. Temanku ga banyak. Cuma teman sebangku atau yang duduknya berdekatan denganku. Aku terkenal sulit beradaptasi dan susah sekali akrab dengan orang baru. Tapi di SMP pula aku mengenal cinta monyet. Namanya cinta monyet, aku cuma berani naksir. Ada cowok yang aku suka banget, tapi aku cuma bisa diam. Sebagai cewek, gengsi dong kalo kita nyatain perasaan duluan. Jadi aku cuma bisa liat cowok yang kutaksir dari jauh, menikmati senyumnya, dan memimpikan dia... ceileee... Meskipun ga pernah jadian,  tapi aku menikmati perasaan itu. Karena sangat menyenangkan bila mendapat kiriman salam darinya. Hehe.. Di sekolah, aku tetap aktif ikut kegiatan yang menurutku aku mampu. Lomba pidato, lomba puisi, lomba saritilawah, lomba Bahasa Inggris.. Saking giatnya aku ikut lomba, guruku sampai bosan melihatku mendaftarkan diri mengikuti lomba. Bahkan pernah aku dilarang ikut lomba menyanyi, karena aku sudah mendaftar ikut lomba Matematika, Bahasa Inggris dan pidato. Hehe..

Masuk usia SMA, aku mulai mengalami perubahan. Aku mulai membuka diri, mulai dikenal sebagai anak yang "ramai" dan cepat akrab. Aku sendiri ga ngerti kenapa aku bisa berubah 360 derajat. Teman-temanku lebih banyak cowok. Tiap hari selalu ada cowok-cowok yang main ke rumah. Ibu sampai heran melihat perubahanku. Dulu ga punya teman, sekarang temannya ga berhenti datang ke rumah. Saat aku harus masuk rumah sakit karena asma, teman-teman cowokku selalu menjagaku, dan juga menghabiskan kue dan buah yang disediakan untukku. Hehe.. 

Aku masih aktif di berbagai kegiatan dan lomba. Aku masih juara bertahan lomba Puisi di kota, dan aku memenangkan juara satu Lomba Putri Kartini. Padahal aku bukan cewek cakep,lho.. Aku hitam, kurus ceking dan penyakitan. Hanya saja aku punya kadar PD yang berlebihan... Hehe.. Saat  ikut Putri Kartini, aku mengandalkan apa yang ada dalam diriku, jadi aku tidak berusaha jaim di depan juri. Eh, ga disangka aku malah mengalahkan cewek-cewek  lain yang jauh lebih cantik dan pintar.. Wah ini sih namanya ketiban nangka (aku ga suka duren, hehe)

Aku ini ibarat ugly duckling. Itik buruk rupa. Tapi aku selalu menunjukkan potensiku, jadi selain ikut berbagai lomba, aku ikut KIR, basket, vocal group dan band. Pokoknya selama aku merasa mampu, aku ikut. Aku berusaha menunjukkan pada orang lain, meskipun aku bukan cewek idola yang dikejar-kejar banyak cowok, tapi aku bisa berprestasi dan punya teman banyak. Aku bersyukur punya teman-teman yang menyayangi dan melindungi aku. Bahkan hingga saat ini, aku masih berhubungan baik dengan mereka.

Aku memiliki pacar saat SMA... cihuy...! Dan entah disengaja atau tidak, pacarku selalu orang keturunan tionghoa. Tapi ga ada dari pacar-pacarku itu yang kuanggap serius, semua selalu berakhir cepat. Kecuali satu. Pacar terakhirku ini bertahan lama, bahkan sekarang jadi suamiku.. Asyiiik....  

Aku sangat menikmati masa remajaku, walau aku harus mengakhirinya dengan cepat karena menikah muda. Aku ga akan cerita sekarang, tapi aku harus mengakui, masa remaja memang penuh warna...:)