Senin, 11 April 2011

Laci Lima : Get Married

Aku menikah muda. Aku menikah saat usiaku 18 tahun. Terlalu muda memang. Aku menikah saat masih kuliah dan masih semester dua. Aku kuliah di salah satu universitas swasta di Malang. Awal kuliah aku sangat tidak bahagia. Aku tidak bisa berbaur dengan teman-temanku, karena aku merasa minder. Di tempat kost aku juga merasa asing. Aku merasa begitu merindukan keluargaku, teman-teman SMA-ku dan tentu saja pacarku yang saat itu kuliah di Bandung. Walaupun pada akhir semester satu aku mulai mendapat teman karena aku memenangkan English Speech Contest di kampus, tapi tetap saja aku merasa kesepian.

Semester dua aku menikah dengan pacarku. Dia berhenti kuliah karena tidak tahan berjauhan denganku.. Hehe.. Aku cuti kuliah saat hamil dan melahirkan dan kembali kuliah ketika anakku berusia 7 bulan. Aku sempat terkena baby blues syndrom setelah melahirkan. Aku merasa duniaku berakhir. Aku merasa belum saatnya aku menjadi ibu, aku masih terlalu muda. Aku marah pada suamiku, marah pada diriku sendiri, marah pada anakku yang tidak tahu apa-apa. Untung saja, perasaan itu tidak berlangsung lama. Ketika kembali kuliah, aku sudah kembali kepada diriku seperti saat SMA dulu. Karena cuti selama setahun, aku kuliah bersama angkatan dibawahku. Disini aku menemukan banyak teman baik. Mereka menerimaku dengan tangan terbuka dan sangat bersahabat. Dan suamiku akhirnya diterima UMPTN di Malang, jadi bisa kuliah bersamaku. 

Aku mengontrak rumah bersama suami dan lima orang sahabatku. Saat itu, aku dan suamiku adalah pasangan miskin. Kami meninggalkan anak bersama orangtuaku. Kami tidak punya penghasilan dan sama-sama masih kuliah. Uang masih diberi orangtua. Benar-benar hidup di bawah saat itu. Tapi kami bahagia, karena susah senang ditanggung bersama dan ada sahabat-sahabat baik kami yang selalu siap membantu bila kami kesulitan.

Ketika akhirnya suamiku memulai bisnis penyewaan VCD, dia harus berhenti kuliah karena fokus mencari uang. Karena itu, kami keluar dari kontrakan. Aku melanjutkan kuliah sendiri. Harus pulang pergi Pasuruan-Malang tiap hari untuk kuliah. Semester 7, aku terpaksa berhenti kuliah karena anakku masuk sekolah. Orangtua kami sibuk, jadi tidak ada yang mengurusi sekolah anakku. Aku sebagai ibu, tentu saja harus mendahulukan anak. Jadi aku harus rela melepaskan gelar sarjana komunikasi yang hampir di tangan demi anakku. Aku sama sekali tidak menyesal, malah aku senang bisa membimbing anakku.

Selama 6 tahun aku tinggal bersama mertua. Mertuaku orang yang baik. Mereka bukan mertua yang jahat seperti di sinetron. Mereka sangat baik. Aku bersyukur punya mertua seperti mertuaku. Ketika akhirnya aku punya rumah sendiri, mertuaku sempat melarang kami pindah dan meminta kami tetap tinggal bersama mereka. Tapi kami ingin mandiri, walaupun tidak punya apa-apa. Aku tidak bekerja dan bisnis suamiku masih sangat kecil. Selama 7 tahun aku jobless, aku benar-benar merasa malu pada anakku karena tidak bisa memberi apa-apa. Anakku memang tidak kekurangan apapun, kakek neneknya sangat memanjakan dia. Tapi aku merasa bersalah padanya. Apalagi selama tinggal di rumah sendiri, kami benar-benar kekurangan. Suamiku wirausaha yang  penghasilannya tidak tentu. 

Alhamdulillah, setelah 7 tahun aku akhirnya dapat pekerjaan. Mulai dari ikut kontraktor selama 3 bulan, jaga wartel, jadi kasir di kedai usaha patungan suami dan dua teman, sampai kemudian mertuaku memintaku jadi guru tidak tetap di sebuah sekolah swasta. Akhirnya, cita-cita kecilku tercapai. Jadi guru. Hore...! Walaupun gaji pertamaku sebagai GTT cuma 30 ribu rupiah, tapi aku menikmati pekerjaanku. Aku kuliah lagi. Aku kuliah Pendidikan Guru SD, jadi khusus jadi guru kelas SD. Teman-teman kuliahku di Malang banyak yang heran kenapa aku bisa jadi guru SD? Hehe.. Belum tahu aja mereka, kalau aku kuliah lagi. 

7 tahun jadi GTT di 2 sekolah, akhirnya aku lolos tes CPNS. Horee...! Dan sekarang, akhirnya, kehidupan pernikahanku, setelah hampir 16 tahun, semakin kokoh dan kuat. Setelah melewati begitu banyak aral melintang, kami bisa berdiri sendiri. Dari tidak punya apa-apa, makan saja susah, hingga bisa membelikan anakku barang-barang yang dia mau, meskipun bukan barang mewah. Tentu saja itu tidak lepas dari bantuan orangtua dan mertuaku. Dan aku tidak akan pernah menukar keluargaku dengan apapun. Aku sangat bahagia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar