Sabtu, 22 Oktober 2011

Laibbaikkallah Humma Laibbaik...

Bentar lagi Idul Adha.. Musim Haji tiba.. Bagi umat Muslim sedunia, menunaikan ibadah Haji adalah hal yang dirindukan, selain menjadi ibadah wajib bagi yang mampu.

Barusan aku dan teman-teman pulang dari rumah orang yang hendak berangkat ibadah Haji. Dalam sehari kami mendatangi dua pasang suami istri yang mendapat panggilan Allah itu. Dalam waktu satu jam kami makan dua kali, belum cemilan yang disuguhkan tuan rumah. Bayangkan betapa gendutnya kami sepulang dari mendoakan teman kami itu.

Masih ingat ketika ibu naik Haji beberapa tahun lalu. Betapa ribet dan repotnya orang yang mau naik Haji. Mau berangkat ada syukuran. Pulang pun syukuran. Belum lagi oleh-oleh yang harus disiapkan untuk para tamu yang katanya, minta berkah. Padahal tidak dipungkiri, meskipun tidak diakui terang-terangan, tamu-tamu yang berduyun-duyun datang setelah ibu pulang, pasti mengharapkan oleh-oleh dari Mekkah. Padahal belum tentu oleh-oleh itu dari Mekkah. Jujur aja, 90% jamaah Haji Indonesia, membeli oleh-oleh di Indonesia sendiri. Kalo di Jawa Timur sih, pusatnya di pasar yang ada di Makam Sunan Ampel Surabaya. Mau cari oleh-oleh apa saja, pokoknya berbau Arab, ada. Selain lebih murah, ga ribet pula bawanya. Bayangin aja kalo oleh-oleh itu benar-benar dibeli di Mekkah. Betapa ribet bawanya, ngurusin pajaknya dan lain-lain. Apalagi yang dibeli selalu dalam jumlah yang subhannallah ya... buaaaaannnnyyyyuuuuaaaak....!! Ibuku kedatangan tamu setiap hari selama 40 hari, dari pagi sampai malam. Dan separuh dari tamu-tamu itu, ibuku ga kenal sama sekali.

Yang membuat aku berpikir, apakah untuk menunaikan suatu ibadah wajib harus seribet dan semahal itu ya? Dari mulai daftar, mendapat kuota, bayarnya yang mahaaaaal, belum lagi nunggu untuk bisa berangkat aja sampai bertahun-tahun. Padahal setahuku, orang awam yang tidak terlalu mengerti agama, Islam tidak pernah menyusahkan umat. Islam adalah agama yang mudah dan murah. Lalu kenapa mau naik haji aja orang harus ribet dan repot? Kenapa pula harus mahal? Beberapa orang yang kukenal, menunaikan ibadah haji dengan biaya murah. Karena mereka mendaftar untuk ibadah haji di negara tetangga. Singapura dan Australia contohnya. Mereka bilang, disana lebih murah, ga ribet, ga repot, ga harus nunggu bertahun-tahun. Lalu kenapa di Indonesia jadi mahal, ribet dan lama? Hmmmm....

Ada lagi yang membuatku heran. Kenapa orang yang pulang dai ibadah haji, selalu dipanggil "Ji...". Apa nama mereka ganti semua ya, jadi "Ji.."? Bahkan 90% dari mereka memasang "H" dan "Hj" di depan nama mereka. Hei, Haji dan Hajjah itu kan bukan gelar. Tapi ibadah. Setahuku, Nabi Muhammad dan para khalifahNya, tidak memasang "H" didepan nama mereka. Padahal mereka berkali-kali naik haji. Lalu kenapa umatNya yang baru sekali naik haji aja, udah bangga dipanggil "Ji", bangga menulis "H" dan "Hj" di depan nama mereka. Sekali lagi, haji adalah ibadah. Bukan gelar seperti yang kita raih saat kuliah. Apa karena biayanya yang mahal itu, jadi mereka sengaja pasang "H" untuk menunjukkan kemampuan finansialnya?

Tapi ini cuma pendapatku pribadi sih... Pendapat orang lain belum tentu sama denganku. Aku minta maaf untuk orang-orang yang mungkin tersinggung setelah membaca tulisanku. Aku cuma menulis apa yang kupikirnkan, tidak bermaksud menghujat siapapun. Lagi pula, aku belum pernah ke Mekkah, jadi mungkin saja setelah aku sendiri berangkat ibadah haji suatu saat nanti, aku jadi seperti yang kutulis di atas. Tapi insya Allah, semoga Allah tidak menjadikanku orang-orang yang riya'.. Amiin..