Pengkhianatan...
Kata-kata itu membuat siapa saja meradang...
Siapa saja bisa berkhianat pada siapa saja. Aku mengenal pengkhianatan sejak masih sangat kecil. Aku melihat pengkhianatan dan merasakan luka akibat pengkhianatan itu. Dampaknya, aku sulit mempercayai laki-laki.
Ibuku dikhianati Bapak betahun-tahun. Dan ibu bertahan dengan keadaan itu sampai Bapak meninggal, demi anak-anaknya. Aku ga mungkin bisa sekuat ibu, seandainya aku berada di posisi ibu. Aku melihat sendiri pengkhianatan Bapak sejak masih kecil. Sebagai anak sulung, aku merasa wajib melindungi ibu. Dan mungkin itulah kenapa aku menjadi dewasa sebeblum waktunya dalam pemikiran. Aku merasakan luka akibat pengkhianatan Bapak sampai aku dewasa. Tapi aku adalah satu-satunya anak yang mau memaafkan Bapak. Kedua adikku sama sekali enggan memaafkan Bapak. Bahkan mereka hampir ga pernah bicara sama Bapak.
Tapi, karena ketegaran Ibu, keluargaku ga pernah menjadi keluarga broken home. Keluarga yang tidak bahagia. Kami masih tetap bersatu sampai Bapak meninggal.
Karena Bapak, aku belajar berhati-hati dengan lelaki. Temanku lebih banyak cowok, dan bermacam-macam pula karakternya. Aku berteman dengan cowok yang cupu dan pendiam, sampai cowok junkies dan cowok yang gaya hidupnya berantakan. Tapi tak satupun dari mereka yang macam-macam denganku. Sebaliknya, mereka sangat melindungiku.
Aku juga pernah dikhianati lelaki yang pernah berjanji banyak hal padaku. Untunglah dia tidak menjadi suamiku. Karena aku ga bisa membayangkan kalau dia jadi suamiku, bisa-bisa dia akan mengkhianatiku lagi..
Aku muak dengan pengkhianatan. Aku yakin siapa saja juga muak dengan pengkhianatan.
ada pepatah... APa yg menyakitkan di dunia ini adalah ketika di khianati oleh orang yg amat kita sayangi...
BalasHapus