Kematian ada di tangan Tuhan. Semua orang tahu itu. Tapi tak seorangpun siap menghadapi kematian. Terutama bila itu menimpa orang yang kita sayangi. Aku sudah menghadapi kematian-kematian yang membuatku shock. Kehilangan orang yang kita sayang, sungguh sangat menyakitkan.
Kehilangan pertama yang kuingat adalah saat Embah Kung dari Bapak meninggal. Saat itu aku masih kelas enam SD. Aku lumayan dekat dengan Embah Kung. Beliau yang mengajarkanku Bahasa Inggris sejak aku masih sangat kecil. Tapi kepergian Embah Kung tidak terlalu menyakitkan. Mungkin karena aku masih kecil. Jadi belum bisa merasakan emosi yang berlebihan.
Saat anakku berulangtahun yang ke 6 tahun, Embah Putriku dari Ibu meninggal. Yang membuat aku sangat sedih sampai sekarang, adalah Embah meninggal bersamaan dengan Pakde, anak tertua Embah, kakak Ibu. Embah meninggal sekitar lima menit setelah Pakde meninggal. Keluarga besar begitu terpukul, karena harus memakamkan dua orang sekaligus, padahal mereka tidak tinggal bersama. Selain itu, aku menyesal karena belum sempat memenuhi permintaan Embah sebelum meninggal. Beberapa hari sebelum meninggal, Embah minta foto Ega, anakku, yang baru masuk SD. Tapi aku belum sempat memberikannya, Embah meninggal.
Kemudian, aku kehilangan seorang teman dekat. Seorang teman yang sempat terjerumus ke narkoba, walaupun kemudian berhenti, meninggal saat berusia masih sangat muda, sekitar 20-an. Dia meninggal setelah sholat subuh, dan dalam keadaan sehat. Aku terpukul, karena malam sebelumnya, aku didatangi temanku itu saat aku tidur. Mungkin saat itu dia berpamitan. Dan hanya aku yang dipamitin.
Kepergian Bapak yang paling membuatku shock. Bapak pergi untuk selama-lamanya, tgl 30 April 2007, hari Senin. Beliau meninggal masih memakai seragam, sepulang dari kerja. Bapak tidak sakit, beliau meninggal karena serangan jantung, yang memang diidapnya sejak lama. Hari Sabtu sebelumnya, Bapak masih menjemput adik bungsuku dari rumah sakit di Malang karena demam berdarah. Beliau menyetir sendiri Pasuruan - Malang - Pasuruan. Sebelum menjemput adikku, bapak sempat menitipkan Ibu padaku. Adikku shock saat meninggal, sehingga kondisinya yang baru sembuh dari sakit, langsung drop. Karena kepergian Bapak itu, dua adikku yang rencananya memang akan menikah tahun 2007, harus melaksanakan akad nikah di depan jenazah Bapak. Ga bisa kugambarkan betapa mengharukan dan menyedihkan suasana saat itu. Akad nikah penuh derai air mata.
Lima hari setelah Bapak meninggal, aku kehilangan lagi. Sepupu suamiku, yang lumayan dekat denganku, meninggal karena kecelakaan. Bayangkan betapa limbungnya aku. Aku masih berduka karena Bapak, harus kehilangan saudara dengan cara yang tragis dan mengejutkan. Sampai sekarang aku masih merasakan duka itu.
Aku kehilangan seorang sahabat lagi. Setahun setelah Bapak, sahabatku yang sangat sangat dekat denganku, sudah kuanggap kakakku, meninggal karena sakit. Malam sebelumnya, aku masih menemaninya di rumah sakit. Aku sangat terpukul karenanya.
Setelah Ambon sahabatku meninggal, aku kehilangan keponakanku. Tepat 1 tahun 1 bulan setelah Bapak, adikku melahirkan, dan bayinya meninggal. Ibuku sangat terpukul, begitu juga aku. Sudah lama kami tidak mendengar suara bayi, tapi ketika ada bayi, dia diambil oleh Allah SWT. Aku ga bisa bayangkan bagaimana perasaan adikku.
Kehilangan anak juga pernah aku rasakan. Dua kali, malah. Aku kehilangan janin (harusnya anakku yang kedua), karena kecelakaan motor. Yang kedua kali aku kehilangan janin, karena pre-eklamsia. Dua kali aku dikuret, dan cukup membuatku trauma. Mungkin itu sebabnya aku belum punya anak lagi, ya. Allah kan yang paling tahu yang terbaik untukku.
Kematian orang-orang yang kusayang, membuatku sadar, tak seorangpun tahu usia kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar