Jumat, 03 Desember 2010

Ketika Dua Bahasa Bertemu

Minggu lalu kami pergi ke Pamekasan, Madura. Keluarga besar ibu mertua mengadakan pertemuan keluarga rutin. Aku antusias setiap kali pergi ke Madura. Dari masih harus antri di Pelabuhan Ujung untuk menyeberang lewat laut, hingga menyeberang lebih singkat lewat Jembatan Suramadu.

Madura bagiku seperti pulau eksotis, sama seperti Bali. Tiap datang ke Madura, atau ke Bali, selalu ada budaya yang berbeda dengan budaya Jawa. Dari bahasa, sampai gaya hidup. Di Madura, aku selalu jadi orang bloon, karena sama sekali tidak mengerti bahasa yang mereka gunakan. Padahal aku jadi menantu orang Madura sudah 15 tahun! Tapi tetap saja aku ga ngerti saat orang-orang Madura bertemu dan ngobrol dalam bahasa Madura.

Saat pertemuan keluarga pun, aku cuma bisa bengong dan ngobrol dengan anakku yang juga blank dengan bahasa Madura. 

Satu hal yang aku suka tentang orang Madura (asli Madura bukan Madura bo'ongan), mereka sangat royal. Saking royalnya, kadang aku lihat kurang perhitungan. Orang Madura memang terkenal keras, tapi itu mungkin karena pengaruh geografis. Madura sangat panas dan masyarakatnya dituntut bekerja lebih keras daripada orang Jawa.

Tapi bila di televisi kita selalu disuguhi pemandangan orang Madura bicara dengan logat yang medok, itu juga tidak sepenuhnya benar. Keluarga mertuaku yang medok logat Maduranya hanya almarhum nenek. Mertuaku dan adik-adiknya sama sekali ga medok. Bahkan mereka bisa berbahasa Jawa krama inggil dengan baik. Ironis sekali, sementara anak dan suamiku yang lahir dan besar di Jawa ga bisa berbahasa Jawa krama inggil dengan baik. Mungkin karena sehari-hari mereka berbahasa Jawa ngoko, bukan inggil.

Bagaimanapun, lucu sekali bila keluarga mertuaku ngomong bahasa Madura, sementara aku dan anakku ngomong Jawa. Jadi roaming, ga nyambung...!Hehe!



Tidak ada komentar:

Posting Komentar