Senin, 21 Februari 2011

Tetangga yang menyebalkan

Pernah punya tetangga yang annoying banget ga? Pasti pernah kan..? Tetanggaku ini disebut tetangga bukan, karena dia ga mukim di daerah tempat tinggalku. Tp dia punya lahan persis di sebelah rumah. Yang nyebelin, lahan kosong ini ditanami pohon jati dan ada kandang ayam. Bayangin aja, kebuh jati dan kandang ayam di dalam perumahan! Kayak orang ga ngerti aja, kalo di perumahan itu mana boleh menanam tanaman atau memelihara hewan yang membuat kotor lingkungan. Pohon jatinya yang tinggi, kalo angin kenceng bikin takut. Siapa yang ga takut coba, suaranya kalo kena angin nyeremin, belum lagi resiko tumbang menimpa rumah di kanan kirinya (rumahku sebelah kirinya). Akar pohon jati bisa ngerusak pondasi rumah. Kandang ayam kotor, ga pernah diurusin. Ayamnya keluar masuk halaman rumahku seenaknya, matukin tanamanku, dan buang kotoran seenaknya. Semoga aja ga ada virus flu burung, kalo sampe kejadian, aku tuntut tetangga pemilik lahan itu.

Akhir2 ini keluargaku dilanda gatal-gatal. Aku khawatir karena nyamuk atau binatang lain yang hidup di lingkungan kotor penyebab gatal2 ini. Padahal sudah berkali-kali aku SMS pemilik lahan, mohon pengertiannya untuk membersihkan lahannya. Tapi ga digubris sama sekali. Bahkan sudah dilaporkan pada Ketua RT, tapi tetap ga ada tindakan.Annoying banget kan...?

Kira-kira harus diapain ya tetangga seperti ini..?

Sabtu, 19 Februari 2011

Ga bisa nonton film di bioskop lagi

Keluargaku suka banget nonton film. Tapi bukan sembarang film. Aku, suami dan anakku, kami bertiga lebih suka nonton film yang berkualitas, bukan film komersil tp ga mutu. Jujur aja, saking demennya kita nonton, koleksi film di rumah jumlahnya lebih dari 300 judul, 99 % film luar (hollywood, anime, drama korea). Film Indonesia cuma 2 judul aja, Laskar Pelangi dan Gie. Bukan kita ga suka film Indonesia, tapi karena menurut kita, film Indonesia yang bermutu dikit banget. Dari 2 judul tadi, ada beberapa sih yang bagus, seperti Sang Pencerah. Tapi kita emang lebih suka nonton film luar. Pertama, film luar yang bermutu, emang dijamin bermutu. Dari akting pemain, jalan cerita, special effect, sutradara, musiknya, semua pas dan kesannya ga dipaksain. Anime jepang (bukan serial) ide ceritanya selalu fresh. Drama korea, biar ceritanya sebenarnya itu-itu saja, tp akting pemainnya natural banget, ga lebay kayak pemain sinetron.

Tapi emang ga semua film hollywood kita suka. Seperti Twilight chronicles, kita cuma nonton di bioskop yg Twilight aja, itupun karena pengen tau aja setelah baca bukunya. Setelah nonton Twilight, kita ga pengen nonton sekuelnya, karena menurut kita filmnya biasa aja. Akting pemainnya standar. Kita bahkan ga pengen beli DVD-nya untuk koleksi. 

Nonton film bener-bener bikin stress kita ilang... sama dengan baca buku, karena kita juga pecinta buku. Kalo di tivi ga ada yang nagus untuk ditonton, secara isinya sinetron semua dan kita ga ada yang suka sinetron, kita pasti punya empat pilihan. Satu, setel DVD. Dua, masuk kamar dan baca buku. Tiga, buka netbook dan menjelajah dunia maya. Empat,main gitar. Mungkin kesannya keluargaku jadi kayak orang autis. Tapi justru dengan Empat pilihan tadi, kita jadi lebih banyak pengetahuan dari teman lain. Anakku bahasa inggrisnya lebih bagus dari temannya, karena terbiasa nonton film luar (hollywood, jepang, korea) di DVD dengan teks bahasa inggris. Aku dan suami mewajibkan anakku nonton DVD dengan teks bahasa Inggris, agar dia lebih tahu bahasa Inggris secara luas dan komplit. 

Lalu dengan baca buku, kita bisa tahu banyak hal di dunia tanpa harus keliling dunia (walaupun pengen banget travelling around the world).  Dengan berinternet, kita bisa tahu berita2 yang ga disiarkan di tivi, selain itu bisa sosialisasi tanpa batas. Main gitar, hmmm.... Kita seneng musik, dan kebetulan bisa main gitar semua, meskipun aku dan anakku masih belajar banget. Dengan musik, bener2 bikin relaks...

Empat alternatif meredakan stress keluargaku itu, bentar lagi bakal terhambat salah satu. Bentar lagi, kita ga bisa nonton film di bioskop, karena bakalan ga ada lagi film hollywood diputer di bioskop. Dan ini menjengkelkan...! Karena kita jadi ga bisa nonton Harry Potter and the deathly hallows part II...! Padahal tak ada satu seripun dari Harry Potter terlewat oleh kita di bioskop...! Shit...! Kebijakan menaikkan pajak impor film hollywood yg pada awalnya bertujuan melindungi produksi dalam negeri, menurutku malah jadi bumerang. Kalo cuma ada film lokal di bioskop, bukan ga mungkin kita bakal disuguhi film porno melulu...! Sekarang aja, film horor ada pornonya, film komedi ada pornonya. Lama-lama bakal ada film full porno diputer di bioskop. Trus apa itu yang namanya melindungi produksi dalam negeri...?

Kalo banyak kejahatan seksual dilakukan remaja semakin merajalela, jangan salahkan siapa-siapa. Itu semua karena tontonan yang ga layak tonton tapi tetep diputer dengan alasan Cinta Produksi Dalam Negeri...


Rabu, 22 Desember 2010

It's Mom's Day

Buatku, IBU adalah segalanya... Mungkin aku ga bisa memberikan semua yang ibu mau... Tapi aku berusaha memberikan apa yang ibu harapkan dariku...

Dari Ibu aku belajar menjadi wanita yang tegar

Dari Ibu aku belajar menjadi wanita mandiri, tidak pernah menggantungkan hidup padda seorang lelaki

Dari Ibu pula aku belajar tidak menuntut anakku menjadi yang kuinginkan, tapi membimbing dia menjadi apa yang dia mau..

Happy Mother's Day, Ibu...

I'm a mother too, and I know how hard to be a mother nowadays...


Jumat, 03 Desember 2010

KOREA oh KOREA

Demam Korea...!

Dari drama seri sampai band...

Anakku yang udah ABG pun kena demam ini.. Dan cukup parah..! Di kamarnya penuh dengan poster Super Junior, 2 PM, 2 AM dll... Padahal sebelumnya banyak poster Harry Potter... Majalah dan tabloid yang diburu pun yang khusus Korea.  Bahkan sampai beli kamus Korea untuk mempelajari bahasanya, jadi dia bisa ngerti dikit-dikit bahasa Korea. 

Yang bikin aku geleng-geleng, tiap hari yang dia dengar di MP3 playernya adalah lagu korea, yang dia lihat adalah DVD drama Korea, bahkan DVD bonus dari majalah yang isinya konser dan music video penyanyi dan band Korea dia lihat tiap hari... 

Super Junior yang anggotanya 10 orang (dulu 13 orang, bayangin keroyokannya...!), dia hapal tiap personilnya, bahkan suara tiap personil pun dia hapal. Lagu-lagunya apalagi.. Dan emang sih, lagu-lagunya lumayan juga.. Tapi sampe hapal tiap personil itu yang bikin heran. Padahal menurutku, wajah mereka sama semua, SIPIT...! Hehe!

Belum lagi band lainnya, 2 PM, 2 AM, Wonder Girls dll. Dia hapal semua... ckckckck.. Fenomena ini bukan hanya terjadi pada anakku, sahabat-sahabat anakku pun begitu. Di twitter yang diomongin korea... Aku yakin, di sekolah pun yang diomongin pasti Korean artists, bukan cowok-cowok teman sekolah mereka.

Tapi anehnya, anakku sama sekali ga suka dengan pemain bola Korea Park Ji Suhn (bener ga sih tulisannya?). Pasti karena wajahnya ga keren... hehehe... Kalo aku sih suka banget sama Ahn Jun Wan (bener ga tulisannya?) hehe!

Hmmmm..... Kenapa Korea bisa merajalela di Indonesia seperti ini ya..? Kenapa Indonesia tidak bisa menghasilkan artis yang merajalela di Korea? Gantian gitu... 


Ketika Dua Bahasa Bertemu

Minggu lalu kami pergi ke Pamekasan, Madura. Keluarga besar ibu mertua mengadakan pertemuan keluarga rutin. Aku antusias setiap kali pergi ke Madura. Dari masih harus antri di Pelabuhan Ujung untuk menyeberang lewat laut, hingga menyeberang lebih singkat lewat Jembatan Suramadu.

Madura bagiku seperti pulau eksotis, sama seperti Bali. Tiap datang ke Madura, atau ke Bali, selalu ada budaya yang berbeda dengan budaya Jawa. Dari bahasa, sampai gaya hidup. Di Madura, aku selalu jadi orang bloon, karena sama sekali tidak mengerti bahasa yang mereka gunakan. Padahal aku jadi menantu orang Madura sudah 15 tahun! Tapi tetap saja aku ga ngerti saat orang-orang Madura bertemu dan ngobrol dalam bahasa Madura.

Saat pertemuan keluarga pun, aku cuma bisa bengong dan ngobrol dengan anakku yang juga blank dengan bahasa Madura. 

Satu hal yang aku suka tentang orang Madura (asli Madura bukan Madura bo'ongan), mereka sangat royal. Saking royalnya, kadang aku lihat kurang perhitungan. Orang Madura memang terkenal keras, tapi itu mungkin karena pengaruh geografis. Madura sangat panas dan masyarakatnya dituntut bekerja lebih keras daripada orang Jawa.

Tapi bila di televisi kita selalu disuguhi pemandangan orang Madura bicara dengan logat yang medok, itu juga tidak sepenuhnya benar. Keluarga mertuaku yang medok logat Maduranya hanya almarhum nenek. Mertuaku dan adik-adiknya sama sekali ga medok. Bahkan mereka bisa berbahasa Jawa krama inggil dengan baik. Ironis sekali, sementara anak dan suamiku yang lahir dan besar di Jawa ga bisa berbahasa Jawa krama inggil dengan baik. Mungkin karena sehari-hari mereka berbahasa Jawa ngoko, bukan inggil.

Bagaimanapun, lucu sekali bila keluarga mertuaku ngomong bahasa Madura, sementara aku dan anakku ngomong Jawa. Jadi roaming, ga nyambung...!Hehe!



Senin, 22 November 2010

BERITA BURUK DARI SAHABATKU

Salah seorang sahabatku, Anang, divonis mengidap kanker usus.. Saat aku diberitahu istrinya tentang kondisinya, aku shock..! Benar-benar ga menyangka kalo Anang yang bandel itu sakit parah.. Pertama kali istrinya bilang, Anang belum tentu kena kanker, masih butuh tes lebih lanjut, dan tes-tes itu ga murah.. Diagnosa awal cuma kista di usus, tapi tadi siang saat aku masih di sekolah, istrinya sms aku minta tolong aku menguatkan Anang, karena diagnosa terakhir kista itu sudah jadi kanker. Ya Allah, aku bisa bayangkan perasaan Tantri, istri Anang. Mereka punya dua anak, masih kecil-kecil. Tantri ibu rumah tangga biasa, tidak bekerja. Anang adalah tulang punggung keluarga. Anang dan Tantri, semoga kalian sabar dan kuat menghadapi cobaan ini..

Jumat, 19 November 2010

Nasib TKI

Sudah berapa kali kita harus mendengar berita tentang kekerasan yang dialami oleh Tenaga Kerja Indonesia di luar negeri? Dari yang mengalami cacat fisik hingga kehilangan nyawa karena penganiayaan majikan. Apakah kita terus tutup mata terhadap nasib para TKI, yang sering disebut Pahlawan Devisa? Bahkan dari sekian banyak kasus, kasus Sumiati dan Kikim yang akhirnya memancing reaksi keras pemerintah untuk melindungi nasib warga negaranya di luar negeri.

Tragis dan miris memang. Mengapa harus menunggu jatuh banyak korban untuk bertindak..? Tetapi pepatah orang Indonesia "Lebih baik terlambat daripada tidak samasekali" seringkali membuat maklum tindakan pemerintah kita sedikit terlambat..

Yaah... lebih baik terlambat daripada tidak samasekali, bukan...?